Cerpen Non-fiksi

Kalau Suka Kenapa Tidak.
kalau suka kenapa tidak

Siang ini, sungguh siang yang melelahkan. Terik matahari yang sangat panas bagaikan panasnya sepanci air yang sedang mendidih, seolah-olah memaksa kita untuk diam dan tinggal di rumah.Tiba-tiba terdengar suara yang taka sing lagi.
Bruuuuuuuuuuuukkkkkk
“ Ah… enaknya dah sampai rumah. Uh… kasur yang empuk. “ kata sorang cewek cantik yang sedang menikmati hawa sejuk yang ada di kamar bercat putih itu. Bagi Nina berpanas-panasan di luar sungguh menyiksanya ketimbang ngapalin sejarah.
“ Enaknya…ngapain ya, bosen nie…di rumah? “ keluhnya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang terasa gatal.
***
Di luar kamarnya, tiba-tiba ada seorang wanita cantik yang umurnya lebih tua darinya, tampak rapi memakai kebaya dan sepatu berhak 5 cm. Tak lama kemudian terdengar suara nyanyian yang lembut dan merdu.
Yen ing tawang ono lintang cah ayu….
Aku ngenteni sliramu…..
“ Nina…., Mama mau pergi sebentar ya…. kamu di rumah aja! “
Ternyata itu tadi adalah suara sang Mama tercinta Sambil membuka pintu kamarnya, Nina menjawab, “ Inggih… Ma, mau pergi kemana kok tumben rapi banget? “
“ Ini Mama mau kondangan. Oiya….. Nin, ini bener hari sabtu kan? ” tanya Mama Nina.
” Iya ini hari sabtu. ”
” Kok tumben pulang cepat, Nin. Kenapa? ” tanya Mama Nina heran.
” Malas… mau pergi ke mana-man habis panas banget. ” jawabya.
” O… yau dah mama pergi dulu ya…. ”
” Ya…. ati-ati ya, Ma. “ jawabnya sambil melambaikan tangannya.
Kemudian, Jeglleeekkkk….. (Suara pintu kamar Nina yang tertutup keras, karena tertiup angin kencang)
Bruuuuuuuuuuuukkkkkk
“ Ah… enaknya ngapain ya…. main computer malas, belajar, jalan-jalan ke mol apalagi… malas banget. Ngapai ni. Ah…. sms ajam, kali ya….. “ dengan malas Nina mengambil handphone buntutnya.
Thit thit thit… thit thit…. ( Suara tombol handphonenya )
5 menit…. berlalu, 10 menit… berlalu. Akan tetapi tak kunjung ada sms satupun yang masuk. Hal itu membuat Nina menjadi 3T alias BT.
” Ah…. kenapa gak pada balas sih? Santi, Tono, Mul, Koko. Uh……. nyebelin. “ keluhnya.
Tak berapa kemudian tawanya meledak.
“ Wahaaaa….haaaaa….haaaaa….. ternyata nomor handphone-nya si Mul dan Santi hampir sama cuma beda belakangnya doang. Kalau si Mul 085640000001 tapi kalau si Santi 085640000002. Wah…. keren thu…., kalau nomor handphone aku 085616263645, ada gak ya nomor 085616263646. Coba ah…. ”Kosong Delapan Lima Enam Satu Enam Dua Enam Tiga Enam Empat Enam .
Beberapa menit kemudian nomor itu tersambung.
Thhhuuuuut thhhuuuuut Thhhuuuuut thhhuuuuut
” Wah… nyambung ni, putusin ah. ”
Tiba-tiba terdengar pesan masuk di handphone-nya.
Tittit tittit…… Tittit tittit…… Tittit tittit…….
” Wah pesan masuk ni, dari siapa ya? ” tanyanya dalam hati.
Setelah dilihat dia begitu kaget setengah mati, ternyata pesan dari nomor yang ia miscol tadi. Dengan cemas dan menggigit-gigit bibir bagian bawahnya, dia membuka pesan itu.
” Nuwun sewu niki sinten, nggih?”(Kata-kata yang cukup mengagetkan dan sangat santun untuk orang yang belum dikenal.)
Membaca kata demi kata dari pesan yang baru dibukanya itu. Dia jadi bingung untuk menjawabnya dalam hatinya berkata, ” Aduh… jawab pakai apa ini, aku tidak bisa bahasa krama lagi.”
Akhirnya dia memutuskan untuk menjawabnya dengan bahasa indonesia.
” Maaf saya tidak bisa bahasa krama, tapi kalau bahasa jawa ngoko bisa.Tadi saya cuma iseng-iseng aja. Kalau mengganggu saya minta maaf. ”. Pesan singkat tersebut langsung dikirimnya.
Tak berapa lama kemudian, ada pesan yang masuk di handphone- nya.
” O… kalau begitu kamu harus belajar, kita sebagai generasi muda harus bisa melestarikan kebudayaan kita dengan semaksimal mungkin. Agar tidak lagi dicuri oleh negara lain.”
” Em….. bener juga kata kamu. Kita harus melestarikan kebudayaan kita. Kamu ajarin aku ya, kalau kamu gak mau ya gak apa-apa?”.
“ Dengan senang hati aku mau ngajarin kamu, Kenalin nama aku Susilo, kalau kamu siapa? sekarang kamu sekolahl dimana? “
Membaca pesan yang tak terlalu singkat itu, dia jadi bingung lagi menjawabnya. Sekarang, yang ia bingungkan soal nama. Jika ia memakai nama Nina, ntar kalau ada apa-apa bisa gawat. Akhirnya, dia memakai nama Ratna. Dan secepat kilat Nina membalas pesan itu.
“ Kenalkan nama aku Ratna, q skul di SMA Bunda Kasih, kalau kamu dimana? “
“ Kalau aku di SMK 1, Kelas XI. Gimana ciri-ciri kamu, mungkin aku pernah liat kamu sebelumnya? “
” Muka aku tidak cantik kok. Rambut kriting,item,cupu,norak Kalua kamu? ”
Dua menit berlalu, tapi si Susilo tak juga membalas sms-nya. Dalam penantiannya menunggu sms dari Susilo yang tak kunjung dibalas. Dia mulai berpikir bahwa Susilo adalah cowok yang hanya memandang cewek dari penampilannya saja. Padahal, kalau tahu wajah Nina yang sesungguhnya pasti dia akan tertarik padanya. Bagaimana tidak tertarik bodynya bagus, kulitnya putih, rambut panjang lurus, pernah menjadi foto model. Semua cowok pasti pada tertarik dengannya. Akan tetapi sampai sekarang kalau ada cowok yang tembak dia, pasti dia tolak. Ntah kenapa, yang tahu hanyalah dirinya sendiri.
“ Hem…. dasar cowok. Semuanya sama saja. ”
Setelah menunggu balasan dari Susilo yang tak kunjung masuk di handphone-nya. Dia memutuskan untuk pergi mandi. Saat Nina sedang asyik-asyiknya mandi. Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk di handphone-nya.
Tittit tittit…… Tittit tittit…… Tittit tittit…….bunyi pesan masuk itu tak kunjung berhenti sampai Nina selesai mandi. Melihat handphone-nya yang bergetar dan tak kunjung berhenti berbunyi, dia semakin heran. Akhirnya dia putuskan untuk membuka pesan yang masuk di handphone-nya. Alangkah kagetnya dia melihat 4 pesan sekaligus masuk di handphone-nya. Lalu dia buka satu per satu pesan itu.
Pesan pertama, ” Jangan merendahkan dirimu sendiri. ”
Pesan kedua, ” Kalau aku jauh lebih cupu dari kamu.”
Pesan ketiga, ” Kulit aku hitam, rambut hitam jelas bukan orang bule. mata aku ada 4, 2 mata yang asli 2 mata lagi yang palsu. Atau kata lainnya aku pakai kacamata.. ”
Pesan keempat, ”  ”
Setelah membaca pesan dari Susilo, Nina hanya tersenyum membaca pesan yang tersebut. Kemudian, dia membalas pesan tersebut.
” Emm….. kamu lucu juga. Mulai sekarang kita jadi teman. ”
Keesokan harinya adalah hari libur alias hari minggu. Serajin-rajinnya seorang murid pasti tidak ada yang mau kalau disuruh masuk kecuali disuruh masuk sama guru. Tiba-tiba handphone-nya berbunyi, setelah dibuka. Ternyata pesan dari teman barunya Galeh.
” Selamat pagi Ratna, sudah pagi lo! “
Secepat kilat Alisya lengsung membalas pesan tersebut.
” Sudah bangun dong. “
Kemudian bunyi pesan masuk terdengar nyaring. Setelah dibaca Nina, ternyata hanya balasan singkat dari Susilo.
” O…. ”
Dari hari kehari Nina menjadi sangat akrab dengan teman smsnya itu. Sempat terpikir untuk janji bertemu. Akan tetapi niatnya itu urung dilakukannya.

Tak terasa hari semakin pagi lagi, matahai seolah-olah berlari-lari seperti mengejar deadline . Pagi-pagi buta pesan masuk di handphone-nya terdengar nyaring.
Tittit tittit…… Tittit tittit…… Tittit tittit…….
Sambil mengucek-ucek matanya yang hampir setengah melek. Dia mengambil handphone-nya, dan membaca pesan yang baru masuk tersebut.Ternyata pesan dari Galeh yang membangunkannya.
“ Bangun …. Rat, hari ini ada upacara kan?. Oia… jangan lupa bawa topi! ”
” Em….. galeh. Thaks ya.. dah ngingetin. “ katanya dalam hati.
***
Di sekolah, Nina langsung dengan semangat 45 mengajak ngobrol teman dekatnya si Mul, nama lengkapnya Mulyadi. Tapi biar keren dia hanya mau dipanggil dengan 3 huruf yaitu ” Mul ”. Meskipun duduknya tidak satu bangku atau alias depan belakang. Mul cowok putih, baik, pandai, dan tampan. Tetap sabar mendengarkan curhatan Nina yang panjang lebar mengenai anak jalanan. Di mata Nina, Mul adalah sosok teman yang sangat mengerti dia. Contohnya saat Nina ulang tahun dia yang pertama kali memberinya surprise. Mul begitu baik dengan Nina. Tahu tidak sebabnya?. Sebabnya si Mul sudah lama naksir Nina, tapi perasaan itu ia sembunyikan rapat-rapat. Karena Mul tahu sifat Nina yang mendadak jadi sadis sama orang yang naksir dia. Saat Nina menceritakan kejadian-kejadian yang dilihatnya tentang anak-anak jalanan. Mul hanya bisa bengong menatap Nina yang penuh semangat membuat rencana-rencana untuk membantu anak-anak jalanan.
” Dit…… kok cuma bengong doang? ”
” Gak kok, Nin! ”
” Em…. gimana kalau nanti sepulang sekolah kita temui anak-anak jalanan yang kamu maksud. Terus kita tanya-tanya dulu apa kesulitannya, baru kita buat rencana-rencana untuk bantu dia. Gimana ?”
” Ya…sudah kalu begitu.”
Thhhhheeettttttt Thhhhheeettttttt
Thhhhheeettttttt (Bunyi bel tanda masuk sekolah, akhirnya terdengar juga)
Pelajaran pertama telah usai. Nina yang pasang muka happy berharap nilai matematikanya lebih tinggi dari Mul. Mendadak murung, karena harapannya pupus, nilai matematikanya lebih rendah dibanding nilai Mul. Dengan cepat pikiran yang aneh-aneh mulai ada didalam otak Nina. Karena baru kali ini dia kalah taruhan sama Mul. Taruhan…. gimana ceritanya ya… Kita flashback dulu ya….
2 Bulan yang lalu, di kantin sekolah.
” Hay…. Nina….” sapa Mul pada Nina.
“ Hay……., Mul. “
“ Eh…. bentar Nin, coba deh kamu lihat si Rono sama Tejo!.” sambil menunjuk dengan jari telunjuknya ke arah Rono dan Tejo.
” Heem….,Mul. Sepertinya mereka taruhan disana?”
” Iya…….. wah sepertinya seru tu… Nin. Mau coba tidak?”
“ Boleh juga tu… tapi jangan pakai uang ya…..”
” Ok! tapi taruhan apa ya? ”
” Mul, gimana kalau taruhan bagus-bagusan nilai. Kalau kamu bisa mengalahkan aku, kamu minta apa aja aku ikuti deh.”
” Bener nih…. gak boong ’kan? ”
” Heem…..”
Naasnya, sampai taruhan itu disepakati mereka berdua. Mul belum pernah menang dari Nina. Akibatnya,si Mul disuruh ini itu sama Alisya ya…. mau-mau aja. Mau nolak nanti dikira ingkar janji. Pernah si Mul disuruh Nina mengerjakan PR sejarahnya terus mengantarkan ke Mall, dan lain-lain. Kasihan amat si Mul. Namun penderitaan Mul terbayarkan sudah Nina kalah kali ini. Dengan kemenangannya yang pertama Mul siap-siap menggoda Nina yang dari tadi pasang muka murung. Kemudian Mul dengan senyuman kemenangannya menoleh ke belakang.
” Nina… siap-siap ya… hikz…hikz….” kata Mul yang sedang menggoda Nina.
Bel istirahat berbunyi dengan nyaringnya.
Thhhhheeettttttt Thhhhheeettttttt Thhhhheeettttttt
Thhhhheeettttttt Thhhhheeettttttt
Thhhheeettttttt
Tiba-tiba terdengar suara cewek yang sedang memanggil Alisya.
” Nina aku mau bicara, tapi tidak disini. ” kata Santi teman satu kelasnya.
” Ok! ke kantin aja yuk….. ”
Dalam perjalanan menuju ke kantin, Nina masih memikirkan kekalahannya dengan Mul.
” Aduh… Mul mau ngapain aku ya…”, katanya dalam hati.

Tak berapa lama kemudian, Nina dan Santi sampai ke kantin.
” Lis… ke kantin pojok aja ya… ” bujuk Santi.
” Terserah kamu…..”
” Ok! ”
Sesampainya di kantin pojok.
” Bang….. pesan 2 soto dan 2 es teh, yang cepet ya, Bang! ”
” Kamu mau bicara apa? ”
” Tolong aku…. Nin, pleasse. Em… tolong comblangin aku dengan depan-mu.”
“ Maksud kamu dengan Mul “
“ Iya….. mau ya? “
”Krek….krek……suara hati yang sedang hancur. Hati siapa lagi kalau bukan hatinya si Nina. Dia hanya bisa bengong menatap Shaily temannya.
” Nina mau ya….? kok, malah bengong aja. ”
Dengan hati yang terpaksa, dia menjawab, ” Iya..”
Setelah hampir habis sotonya. Bel masuk berbunyi, pelajaran mulai dilanjutkan. Nina masih memikirkan hatinya yang hancur. Dalam hatinya dia senang, sahabatnya mempunyai fans.Akan tetapi disatu sisi dia tidak rela.
Tiba-tiba bel pulang berbunyi, Nina tersentak dan teringat kalau ia punya janji dengan Mul. Dengan nada terpaksa dia mengajak Santi untuk ikut dengannya mewawancari anak jalanan.
” Nin… ayo….” ajak Mul.
” Tunggu….. Mul. Ada yang mau ikut.” jawab Nina
”Siapa?” tanya Mul dengan muka murung. Tadinya Mul berencana untuk mengungkapkan perasaannya. Tapi sepertinya rencananya itu gagal. Tak berapa lama kemudian, Santi mendekati mereka berdua.
“ Hay… San?” sapa Nina.
“ San kamu mau ikut kami.” tanya Mul.
” Iya….”
” Mul, jadi gak sih wawancanya? ” tanya Nina.
” Jadi dong, ayo kita kesana.” sahut Mul.
Sesampainya di tempat anak-anak jalanan mangkal. Mul, Nina, dan Santi menghambiri mereka.
“ Sory Dik boleh duduk sisi gak?” tanya Mul dengan muka yang bersahabat.
Anak-anak jalanan yang tadinya sibuk bercanda dengan anak-anak jalanan lainnya, kemudian menghentikan aktivitasnya tersebut.
” Iya… iya boleh.” dengan nada yang medog
” Dik, kenalan yok?” bujuk Mul. Dengan mengulurkan tangan kananya, tak lama kemudian tangan tersebut disambut dengan tangan juga.
” Yo…. jeneng ku Nino, iku jeneng gaul-ku mas.”
Tanpa disuruh olel Mul, Nina menjabat tangan Nino yang terlihat sedang menyodorkan kehadapan-nya.
” Nina….. ,Nino kowe ning kene tinggal mbek sopo?”
“ Ning kene aku tinggal mbek konco-konco ku Nin. Mbak emang aku iki rak pernah adus yo.. mambu koyok ngene.”
” Ah… rak popo. Nino cerita dong.”
“ Cerita opo mbak? “
“ Maksudnya Nina kamu suruh cerita tentang kesulitan kamu Nin?” sahut Mul
Kemudian, Nino anak jalanan yang berpakaian kumuh, compang-camping itu, bercerita banyak mengenai kesulitan yang ia alami dengan teman-temannya. Dari tempat tidur, makan, mandi saat mendengar cerita dari Nino. Nina semakin ingin menolongnya. Karena hari sudah sore, akhirnya Mul, Nina, dan Santi pamit pulang. Namun yang disayangkan Santi tidak mau menjabat tangan Nino. Saat ditanya alasaanya culup mengagetkan,” Maaf Nino, aku buru-buru.” kemudian dia langsung pergi begitu aja meninggalkan Nino.
Di perjalanan pulang mengantarkan Santi, Nina dan Mul terus membahas mengenai nasib si Nino. Santi yang merasa diacuhkan oleh kedua temannya itu berdoa agar dia cepat sampai di rumah. Ketika sampai di depan rumahnya.
“ San, makasih ya… sudah mengantar” kata Mul.
” Iya. ” sambil melambaikan tangannya Santi masuk ke rumahnya.
” Mul gimana cara kita menolong si Niono?”
“ Em… gimana ya, aku juga bingung?”

Di rumah, Nina masih memikirkan Santi dan Nino. Tanpa berpikir panjang dia mengambil handphone-nya dan mengirim sebuah pesan ke teman smsnya, si Galeh.
” Susi…lo, gimana kalau sahabatmu disukai sama seseorang?”
Tak berapa lama, suara pesan masuk dari handphone-nya berbunyi nyaring.
” Ya…seharusnya kamu senang dong.”
Membaca pesan itu, Nina langsung menjawab pesan itu. Tapi di tengah-tengah Susilo miscol handphone-nya. Karena miscolnya lumayan lama, sebenarnya mau dia angkat, E….keburu dimatiin.Sialnya, pesan yang ditulis panjang lebar itu kehapus. Akibatnya dia malas ngetik lagi, dan ia tak membalas pesan dari Susilo tadi. Tapi setelah membaca pesan dari Galeh, akhirnya dia memantapkan hatinya untuk menyomblangi mereka berdua.
***
Keesokan harinya, Nina tak terlalu memikirkan apa yang terjadi kemarin. Sewaktu bel istirahat berbunyi, secepat kilat dia menggandeng tangan Mul ke tempat yang biasanya mereka tuju bila ada masalah. Mul yang tak mengerti apa-apa hanya bisa bengong menatap Nina, yang berwajah serius. Sesampainya di tempat tersebut. Nina memulai pembicaraannya.
“ Mul… kamu tahu gak si Santi? ” tanya Nina serius.
” Iya tahu, kenapa? ”
” Dia naksir kamu, dia minta aku untuk nyomblingin kalian. ”
” Boleh juga, lagian Santi juga tidak jelek-jelek amat kok. Kalau begitu nanti pulang sekolah suruh dia menemuin aku disini. Ok! ”
” Ya sudah…. kalau gitu. O…ia si Nino gimana ?”
“ Kata Papa aku, dia mau bantu Nini dan teman-temannya.”
” Bantu apa?” tanya Nina ingin tahu.
” Kata Papa aku, itu rahasia.”
” A…. Mul, kok main rahasia-rahasiaan sih.”
Setelah meninggalkan Mul dengan hati yang puas dan senang, tiba-tiba ada sesuatu yang membuat hatinya begitu hangat dan semakin panas. Entah apa penyebabnya Nina belum tahu. Tapi setelah mendengar,
” Boleh juga, lagian Santi juga tidak jelek-jelek amat kok. Kalau begitu nanti pulang sekolah suruh dia menemuin aku disini. Ok! ”
Pyar……..semakin hancur hatinya
Setelah agak tenang, akhirnya dengan berat hati dia menyampaikan amanat dari Mul. Wajah Santi langsung berbinar-binar mendengarnya. Kemudian, pulang sekolah aku mengantarkan Santi ke tempat yang dituju, ternyata di sana sudah ada Mul yang menunggu kedatangan Santi. Setelah mengantarkan Santi, Nina tak kuasa menahan tangis. Akhirnya, dia secepat mungkin meninggalkan tempat itu dan pulang ke rumah.
***
Pagi harinya wajah Adit tampak cerah. Nina yang kala itu melihatnya mulai menebak-nebak apa yang telah terjadi pada teman dekatnya itu. Nina semakin memperkuat dugaanya itu, dengan sebuah bukti. Tiba-tiba saja Mul mengajaknya makan, karena tak kuat menahan perih di dada. Setelah Mul meninggalkannya, secepat kilat dia lari ke kamar mandi dan…..
” Hikkkkkzzz……. Dasar Mul bego…… kenapa kamu menerima cintanya Santi. ” kini tangis Nina semakin menjadi-jadi di sana.
O…. ternyata prasangka Nina, Mul dengan Santi jadian. Kemudian di memencet-pencet tombol di hanphone-nya
“ Susilo… aku benci sama sahabatku sekarang dia sudah jadian sama orang lain.”
Setelah pesan tersebut terkirim, Nina mematikan handphone-nya.
***
Di Restauran, Mul memulai pembicaraan dengan wajah yang cukup prihatin dengan keadaan Nina.
” Nin kamu kenapa? ” sambil memegang pundak sohibnya itu
” Mul jangan pegang-pegang.”
” Kamu kenapa tiba-tiba jadi sadis dengan aku.”
” Mul aku sibuk. Sekarang kamu ajak aku ke sini mau apa?”
”Aku mau bicara.” belum sampai dia menyelesaikan perkataannya itu Nina secepat kilat memotongnya.
” Kamu mau bicara kalau kamu sudah jadian dengan Santi. Aku sudah tahu kok. Tidak usah kamu kasih tahu!” kata Nina.
” Bukan….malah si Santi aku tolak…. ”
Nina yang sedang minum, seketika tersedag, ” Uhhhhuuukkkkkk……. uhhhuuukkkkkkk……..”
” Nin kamu kenapa?,sekarang kamu minum dulu .”
Nina pun langsung minum air yang ada dihadapannya sampai habis. Setelah Nina sudah agak tenang, Mul memulai pembicaraannya kembali.
” Nina…… aku mau ngomong… “
“ Em…… “ tanggapan Nina yang tak mengenakan.
” Nin aku suka sama……………… orang lain.”
” Siapa? ” tanya Alisya sambil memegang dekub jatungnya yang semakin lama semakin kencang berdetak keras.
” Aku suka sama kkkkaaaaaaaammmmmmmmmuuu”
” Ha……. sory Dit aku gak bisa? ”
” Nin…… aku tahu kamu suka sama aku ’kan? ”
” Apa…? ”
” Nina…… sebenarnya teman sms-mu yang bernama Susilo itu aku.”
” Mullll jadi selama ini kamu sudah boongin aku. Kamu jahat…….” secepat kilat Alisya pergi meninggalkan Adit.
” Nin tungguuuuuuuuuu……. ” teriak Mul. Tapi teriakannya tak didengarkannya.
Setelah membayar ke kasir. Akhirnya Mul memutuskan untuk pergi ke tempat yang sering dia kunjungi bersana Nina. Setelah sampai di tempat itu, betapa kagetnya dia. Ternyata di sana ada Nina yang menangis.
” Nin… aku menyesal tidak bilang sama kamu. Tapi beri aku kesempatan untuk ngejelasin semuanya. ”
Kemudian Alisya menganggukan kepalanya.
” Nin, sekarang kamu aktifkan handphone kamu.” pinta Mul.
Kemudian Adit miscol nomor handphone Alisya dan terdengar….
” Halo……. disini Nina Septiani. Sekarang ini aku gak bisa dihubung. Kalau mau nitip pesan setelah tanda ini ya……. ”
Nina yang mendengarnya, langsung kaget.
” Nina……… maafin aku. Tapi aku bener-bener sayang kamu.”
Nina yang ketika itu menatap wajah Mul. Tak kuasa memeluknya dan….
” Mul aku juga sayang kamu. ” kata Nina
Tak lama kemudian, Nina kembali bertanya pada Mul.
” Mul, si Nino dan teman-temannya aimana?”
“ Mereka sekarang menjadi anak angkat Papa aku.”

Selesai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: